Menulis; Panggilan Hidup

 Ketika Menulis Sebuah Panggilan Hidup
Oleh Kang Yadi
Tak semua orang berani mengambil keputusan untuk menulis. Selain dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti merasa tidak punya bakat, malu, dan tentu menulis harus banyak referensi sehingga harus banyak membaca, sedangkan untuk membaca—bahkan kultur membaca di Indonesia sangat kurang. Ya, berbagai faktor itulah yang sering dijadikan alasan kenapa menulis itu sulit. Meskipun, tak sedikit pula orang yang berhasil keluar dari stigma pikiran negatif seperti di atas.

Terus terang, awalnya saya sendiri merasa ragu dan gamang ketika memutuskan untuk terjun dan menekuni dunia menulis. Selain alasan-alasan yang sama seperti kebanyakan orang, juga awalnya saya beranggapan, apakah benar iyah menulis akan menjamin kehidupan saya di masa mendatang?

Meskipun stigma-stigma negatif di atas sampai sekarang terkadang masih sering menghantui pikiran saya. Terutama, ketika ide mandeg di tengah jalan. Sehingga, tak jarang saya pun mengalami down bahkan putus asa. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk terjun ke dunia menulis secara total alias tidak setengah-setengah, tentunya dengan berbagai alasan.

Pertama, menulis ada kebutuhan saya. Ya, sekarang saya merasa bahwa menulis sudah menjadi kebutuhan saya, bahkan panggilan hidup saya. Bagi saya menulis ibarat media untuk mencurahkan semua keluh kesah, resah, sedih, dan persoalan-persoalan hidup lainnya. Dengan menulis, semua beban bisa saya curahkan. Sehingga, kalau saja saya mengalami persoalan-persoalan hidup, pasti menulis adalah tempat pelarian saya yang paling efektif.

Bahkan, banyak di antara penulis-penulis yang mangadalkan kebutuhan hidupnya dari hasil karya (tulisan)-nya, baik berupa buku, tulisan-tulisan lepas, cerpen, puisi yang dikirim ke majalah, koran atau media lainnya. Atau, sekarang menulis sudah dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan.

Kedua, ternyata menulis itu asyik. Mungkin alasan ini yang kadang membuat orang bertanya-tanya besar, memang di mana asyiknya menulis? Apa ia menulis seasyik piknik atau jalan-jalan? Padahal, selama ini banyak orang yang beranggapan menulis adalah pekerjaan yang memberatkan, harus banyak baca, tiap hari berkutat dengan kata-kata, duduk di kamar sendirian, dan lain sebagainya.

Justru di situlah asyiknya menulis. Bahkan menulis lebih asyik dari piknik atau jalan-jalan sekalipun. Menulis menurut saya tidak lagi memberatkan. Sebab, dengan menulis kita bisa menjelajah tiap ruang dengan dimensi yang berbeda. Berkhayal, berimajinasi, bereksplorasi dan lain sebagainya. Dengan menulis semua beban hidup kita dicurahkan, sehingga secara tidak langsung kita bisa terbebas dari penyakit-penyakit seperti gelisah, resah dan stres.

Ketiga, untuk bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, tentunya kita harus banyak menggali berbagai macam ilmu pengetahuan. Menggali ilmu pengetahuan salah satunya adalah dengan banyak membaca. Di sinilah sebetulnya alasan mendasar kenapa saya memutuskan untuk menulis. Sebab, antara menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bagaimana mungkin kita akan menulis sesuatu, sedangkan kita tidak pernah membaca. Membaca adalah kunci utama dalam menulis. Mungkin tidak apa-apa, jika kita membaca tidak musti menulis. Tapi, kalau mau menulis tidak bisa tanpa dengan membaca. Alhasil, membaca adalah kebutuhan primer untuk bisa menulis.

Tentu, membaca tidak hanya terpaku pada membaca buku-buku tebal yang terkadang membuat kita ruwet atau pusing. Tapi, membaca cakupannya luas, bisa dari kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi atau orang lain, juga bisa dari berbagai macam dan peristiwa yang terjadi di alam raya ini. Ketiga point inilah yang akhirnya menggerakkan saya untuk mulai menulis, menulis dan menulis.

Selain, ketiga point di atas, tentu sebaik apapun anggapan kita terhadap menulis, tidak akan pernah akan jadi tulisan kalau kita tidak punya minat dan cara kita untuk mengungkapkan gagasan kita dalam ke dalam sebuah tulisan. Beberapa cara, kenapa saya mencoba untuk tetap menulis, di antaranya;

Pertama, berani malu. Tentu alasan klasik inilah yang seringkali jadi alasan kenapa orang tidak mau menulis; malu! Malu, karena takut ditertawain, tulisan kita jelak, takut diejek, malu kalau tulisan kita tidak sesuai dengan aturan bahasa, atau malu kalau tulisan kita tidak dibaca orang lain. Nah, untuk mengatasinya, tentu cara yang paling mujarab adalah kita harus berani malu.

Dulu, ketika pertama kali menulis modal saya adalah berani malu. Saya masih ingat ketika saya menulis sebuah berita untuk sebuah buletin di kampus saya, itu tulisan dan aturan penulisannya (EYD) acak-acakan. Tapi, waktu itu saya PD saja, toh saya masih belajar. Dan, alhamdulillah lama-kelamaan saya bisa memperbaiki tulisan saya setahap demi setahap.

Kedua, jangan minder untuk melakukan sebuah kebaikan. Terkadang dengan alasan tidak punya bakat, tidak punya pengalaman atau karena kita tidak pernah ikut training menulis, kita pun jadi minder untuk menulis, atau mempublikasikan karya kita ke khalayak ramai.

Terus terang, sampai sekarang saya belum pernah ikut yang namanya training menulis formal (baik training cerpen, puisi, jurnalis dll). Modal saya, sebagian besar adalah otodidak (belajar mandiri) dan beberapa materi bahasa Indonesia yang masih saya ingat, kemauan dan keberanian untuk menuliskan apa yang ada di otak saya. Karena, menulis itu hak dan kebebasan semua orang. Semua orang punya pikiran dan ide-ide brilian yang bisa diungkapkan tanpa harus terkungkung dengan aturan yang bisa mengkrangkeng ide dan pikiran kita (aturan itu bisa dipikirkan nanti).

Akhirnya dengan terus menerus tanpa kenal lelah, insya Allah dengan sendirinya karya itu akan lahir. Dan, saya yakin hampir setiap penulis mengalami proses dan hal yang sama. Tulisan yang awut-awutan, pernah di tolak penerbit atau redaksi sebuah majalan atau koran, dan lain sebagainya.

Tapi, dalam hal apapun—dan semua orang hampir setuju—termasuk dalam menulis proses itu adalah sebuah rangkaian yang musti kita lalui.

So, menulis itu ayik, loh!

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

6 Responses to Menulis; Panggilan Hidup

  1. rusdin says:

    Menulis dan panggilan Tuhan. Itulah prinsip saya. Dengan prinsip itulah kekuatan tulisan kita terasa dan produktivitas kita kian hari kian menjadi-jadi. Cobalah! dan Lihatlah perubahan tulisan dan karya Anda. Semakin hari semakin enak di baca, bersemangat, dan semakin banyak karya lahir dari tangan dingin Anda.

    Rusdin S. Rauf,
    Penulis buku laris Quranic Law of Attraction, Kejabaiban Tahajud, Taklukkan Takdirmu, Salat SMART for Teens, dll

  2. Dengan membaca tulisan Anda di atas, anda benar” telah menjadikan menulis sebagai panggilan hidup Anda. Kalimat” Anda sangat lugas dan lepas…
    Saya yakin Anda akan meraih kesuksesan di bidang ini jika istiqomah… Maju terus..!!!!

  3. PartaWinata says:

    Inspiratif sekalii gan tulisannya…

    Salut sama si akang nih

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s