Terus terang, awalnya saya sendiri merasa ragu dan gamang ketika memutuskan untuk terjun dan menekuni dunia menulis. Selain alasan-alasan yang sama seperti kebanyakan orang, juga awalnya saya beranggapan, apakah benar iyah menulis akan menjamin kehidupan saya di masa mendatang?
Meskipun stigma-stigma negatif di atas sampai sekarang terkadang masih sering menghantui pikiran saya. Terutama, ketika ide mandeg di tengah jalan. Sehingga, tak jarang saya pun mengalami down bahkan putus asa. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk terjun ke dunia menulis secara total alias tidak setengah-setengah, tentunya dengan berbagai alasan.
Bahkan, banyak di antara penulis-penulis yang mangadalkan kebutuhan hidupnya dari hasil karya (tulisan)-nya, baik berupa buku, tulisan-tulisan lepas, cerpen, puisi yang dikirim ke majalah, koran atau media lainnya. Atau, sekarang menulis sudah dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan.
Justru di situlah asyiknya menulis. Bahkan menulis lebih asyik dari piknik atau jalan-jalan sekalipun. Menulis menurut saya tidak lagi memberatkan. Sebab, dengan menulis kita bisa menjelajah tiap ruang dengan dimensi yang berbeda. Berkhayal, berimajinasi, bereksplorasi dan lain sebagainya. Dengan menulis semua beban hidup kita dicurahkan, sehingga secara tidak langsung kita bisa terbebas dari penyakit-penyakit seperti gelisah, resah dan stres.
Bagaimana mungkin kita akan menulis sesuatu, sedangkan kita tidak pernah membaca. Membaca adalah kunci utama dalam menulis. Mungkin tidak apa-apa, jika kita membaca tidak musti menulis. Tapi, kalau mau menulis tidak bisa tanpa dengan membaca. Alhasil, membaca adalah kebutuhan primer untuk bisa menulis.
Tentu, membaca tidak hanya terpaku pada membaca buku-buku tebal yang terkadang membuat kita ruwet atau pusing. Tapi, membaca cakupannya luas, bisa dari kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi atau orang lain, juga bisa dari berbagai macam dan peristiwa yang terjadi di alam raya ini. Ketiga point inilah yang akhirnya menggerakkan saya untuk mulai menulis, menulis dan menulis.
Selain, ketiga point di atas, tentu sebaik apapun anggapan kita terhadap menulis, tidak akan pernah akan jadi tulisan kalau kita tidak punya minat dan cara kita untuk mengungkapkan gagasan kita dalam ke dalam sebuah tulisan. Beberapa cara, kenapa saya mencoba untuk tetap menulis, di antaranya;
Dulu, ketika pertama kali menulis modal saya adalah berani malu. Saya masih ingat ketika saya menulis sebuah berita untuk sebuah buletin di kampus saya, itu tulisan dan aturan penulisannya (EYD) acak-acakan. Tapi, waktu itu saya PD saja, toh saya masih belajar. Dan, alhamdulillah lama-kelamaan saya bisa memperbaiki tulisan saya setahap demi setahap.
Terus terang, sampai sekarang saya belum pernah ikut yang namanya training menulis formal (baik training cerpen, puisi, jurnalis dll). Modal saya, sebagian besar adalah otodidak (belajar mandiri) dan beberapa materi bahasa Indonesia yang masih saya ingat, kemauan dan keberanian untuk menuliskan apa yang ada di otak saya. Karena, menulis itu hak dan kebebasan semua orang. Semua orang punya pikiran dan ide-ide brilian yang bisa diungkapkan tanpa harus terkungkung dengan aturan yang bisa mengkrangkeng ide dan pikiran kita (aturan itu bisa dipikirkan nanti).
Akhirnya dengan terus menerus tanpa kenal lelah, insya Allah dengan sendirinya karya itu akan lahir. Dan, saya yakin hampir setiap penulis mengalami proses dan hal yang sama. Tulisan yang awut-awutan, pernah di tolak penerbit atau redaksi sebuah majalan atau koran, dan lain sebagainya.
Tapi, dalam hal apapun—dan semua orang hampir setuju—termasuk dalam menulis proses itu adalah sebuah rangkaian yang musti kita lalui.
So, menulis itu ayik, loh!
Menulis dan panggilan Tuhan. Itulah prinsip saya. Dengan prinsip itulah kekuatan tulisan kita terasa dan produktivitas kita kian hari kian menjadi-jadi. Cobalah! dan Lihatlah perubahan tulisan dan karya Anda. Semakin hari semakin enak di baca, bersemangat, dan semakin banyak karya lahir dari tangan dingin Anda.
Rusdin S. Rauf,
Penulis buku laris Quranic Law of Attraction, Kejabaiban Tahajud, Taklukkan Takdirmu, Salat SMART for Teens, dll
setuju Mas Rusdin
saya banyak belajar darimu
Dengan membaca tulisan Anda di atas, anda benar” telah menjadikan menulis sebagai panggilan hidup Anda. Kalimat” Anda sangat lugas dan lepas…
Saya yakin Anda akan meraih kesuksesan di bidang ini jika istiqomah… Maju terus..!!!!
Terima kasih atas supprotnya…mohon doanya agar saya diberi kekuatan untuk terus menulis…
Inspiratif sekalii gan tulisannya…
Salut sama si akang nih
Makasih….
moga menginspirasi. sok ah mulai nulis…;)
yakin, kang parta juga bisa…