Dina Amparan Sajadah; Sebuah Pengakuan
Oleh: kang YADI*
Pernahkah Anda mengalami kejadian-kejadian memilukan dalam hidup ini. Musibah beruntun, datang silih berganti, ujian demi ujian seolah tidak pernah memberikan kepada kita untuk menghirup kesegeran kebahagiaan?
Jawabnya, pasti pernah. Walaupun dengan kadar dan tingkat derita yang berbeda, semua makhluk (terutama manusia) di bumi ini tidak akan pernah lepas dari ujian dan cobaan. Bagi manusia beriman, ujian dan cobaan merupakan kosekuensi yang harus diterimanya. Walaupun kadar “menerima” tidaklah mudah untuk diterima sebagaimana layaknya. Kadang, karena keterbatasan manusia dalam memahami realitas dan kejadian-kejadian yang terjadi, seringkali setiap musibah bisa konotasi dan penafsiran yang berbeda-beda.
Bagi si A, ketika mendapatkan musibah, mungkin saja sikap yang timbul adalah marah-marah, atau bahkan menggugat Tuhan sebagai sesuatu yang tidak adil dan tidak sayang kepada dirinya. Bahkan, mempertanyaan sebagai suatu dzat yang tidak becus mengurus ciptaannya sendiri. Sebaliknya, bagi si B ketika mendapatkan musibah, mungkin saja berpandangan dan bersikap, kalau kejadian termasuk musibah yang menimpa dirinya adalah bentuk kasih, sayang dan keadilan Tuhan. Tergantung dari mana kita memandang.
Tapi, bagaimana pun persepsi kita tentang musibah yang terjadi, maka sedikit pun Tuhan tidak pernah bergeming atau gentar terhadap persangkaan hamba-Nya. Toh, Tuhan sendiri bersabda bahwa diri-Nya (Tuhan) bergantung sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Maka, kesimpulannya sangat bergantung, sejauh mana kita mempersepsi musibah dan Tuhan itu sendiri.
Nah, jika ditarik pada konteks nasional, beberapa tahun ini Indonesia seolah tidak pernah surut dari musibah. Berbagai macam bencana terus mengalir datang silih berganti. Mulai dari tsunami, banjir bandang di Jawa Timur, gempa bumi Yogyakarta, gempa laut Pangandaran, lumpur panas Lapindo, dan terakhir banjir yang menyerang beberapa kawasan di Indonesia, seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, dan lain-lain.
Belum persoalan lain. Semenjak era reformasi bergulir berbagai peristiwa, mulai dari persoalan domestik keluarga sampai antar bangsa, kekerasan terhadap anak dan perempuan, kemiskininan, pengangguran, pembunuhan, tawuran antar suku, persoalan TKI dan lain-lain, seolah tidak pernah selesai, melekat bak lumut yang sulit untuk dibersihkan.
Nah, dari sini pun semua orang punya persepsi dan sikap yang berbeda. Mulai birokrat, konglomerat, pejabat hingga orang melarat, punya persepsi dan sikap yang berbeda-beda. Ada yang mengeluh dan mengambil tindakan konyol seperti bunuh diri. Ada juga yang bersikap lebih pasrah tanpa harus bertindak apa-apa untuk keluar dari kemelutnya. Ada juga yang saling menyalahkan, si A penyebabnya, si B penyebabnya dan seterusnya. Ada juga juga yang memaki-maki para pejabat, menganggap karena ulah pejabatlah negara ini jadi hancur, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Karena ulah pejabatlah kemiskinan, pengangguran, kekerasan semakin merajalela.
Ada juga kaum lain yang hanya menyebar brosur, sepanduk, mengadakan pengajian, istighosah, duduk di majelis taklim sambil mencucurkan air mata. Karena kita harus pasrah dan menyerahkan semua persoalan ini kepada sang pencipta, tanpa harus berusaha berbuat, melawan segala bentuk penindasan yang menyebabkan musibah ini terjadi.
Intinya, apapun persepsi, sikap dan cara orang dalam memahami setiap peristiwa dan kejadian yang menimpa memang sah adanya. Bergantung pada seberapa besar tingkat pemahaman, kepekaan seseorang dalam memahami realitas kehidupan ini.
Pengakuan Berarti Kepasrahan
Bagi yang percaya bahwa ada suatu dzat yang lebih Maha sempurna dari yang sempurna, suatu dzat yang kuat dari kekuatan yang ada, dan tidak akan ada sesuatu yang bisa menandingi keberadaan-Nya, tentu segala persoalan akan ia kembalikan kepada sesuatu yang Maha sempurna tersebut.
Artinya, seberapa pun kekuatan manusia untuk menyelesaikan segala persoalan dan musibahnya yang menimpa, maka tidak akan berarti apa-apa, jika suatu Yang Maha Perkasa tidak pernah ikut ambil bagian dalam membantu menyelesaikan persoalannya.
Inilah sebuah pengakuan. Seberapa pun hebatnya manusia, tidak ada yang lebih hebat selain yang mengenggam seluruh alam ini. Dan, seberapa pun sucinya manusia, tetap manusia adalah tempatnya kesalahan dan kekhilafan (kecuali yang dimaksum dan disucikan).
Sebuah lagu sunda, Dina Amparan Sajadah, yang ketika mendengarkannya membuat hati saya tersentuh. Sangat filosofis. Terlepas, dari filosifi awal sang pencipta tagu ini, perkenankan saya untuk menafsirkan sesuai dengan apa yang saya pahami.
Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Diri nu lamokot ku dosa. Nyanggakeun sadaya-daya
Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Mundut pangampura gusti. Ya Allah Robbul Izzati.
Jelas, bahwa manusia tidak punya kekuatan secuil pun jika dibandingan dengan Sang Penggenggam alam ini. Teu aya daya sareng upaya, anging Allah Swt. Pasrah di sini berarti mengakui akan kebesaran Allah Swt.
Inilah, sebuah pengakuan hakiki seorang hamba. Ketika dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk menyesaikan seluruh persoalan yang terjadi, maka layaknyalah bergantung pada yang menciptakan masalah. Konsekuensi sebagai makhluk beriman.
Artinya, sedikit pun kita tidak punya hak untuk menyalahkan Tuhan. Karena bisa jadi segala musibah yang menimpa kita merupakan perbuatan manusia sendiri. Alhasil, kita harus mampu mengkosongkan ke-“aku’-an kita sebagai makhluk. Ketika, pengosongan itu berhasil kita lakukan, maka semua persoalan, semua permasalahan kita serahkan sepenuhnya kepada sang pencipta. Kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin mencegah terjadinya musibah tersebut. Karena bisa jadi, segala derita yang terjadi di bumi disebabkan karena ulah manusia sendiri. ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karen perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum [30]: 41)
Banjir, karena kita membuang sampah sembarangan. Longsor, karena hutan-hutan kita gunduli. Kemiskinan, karena uangnya dikorupsi. Pengangguran, karena kapitalisme merajalela. Maka, wajar jika berbagai problem di negeri ini begitu sulit ditanggulangi.
Taya deui pang lumpatan. Taya deui pamuntangan. Mung Allah pangeran abdi. Pangeran anu sajati. Wallahu ‘alam!
* Penulis adalah ketua umum FLP Cianjur