Kembali Mengais Asa
Oleh: Kang Yadi
Satu bulan tinggal di rumah sakit bukanlah hal yang menyenangkan. Namun, apa mau di kata, luka patah tulang kaki kanan (tepatnya tulang betis) yang saya derita akibat tertabrak motor mengharuskan saya untuk setia tinggal di ruangan ortopedi lantai 2 RSU Hasan Sadikin Bandung.
Peristiwanya terjadi ketika di akhir kelas II MTs (mau naik kelas III), tepat tanggal 22 Juni 1997 kira-kira pukul 2 siang, waktu itu saya dengan seorang teman hendak makan siang ke warung si Emak (begitu anak-anak santri Nurul Islam memanggil pemilik warung nasi langganannya) yang berada di seberang Yayasan Nurul Islam Cianjur. Namun, belum juga sampai tujuan, ketika hendak nyebrang, tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi nabrak saya hingga terpental ke pinggir jalan sejauh kurang lebih 3 meter.
Dengan setengah sadar, saya pun berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, tiba-tiba kaki saya terkulai tak bisa tegak berdiri. Setelah saya lihat, ya..ampuuun..tulangnya nolol keluar. Baru kali itu saya melihat tulang saya sendiri. Selain itu mulut saya pun berdarah, dan ternyata gigi saya rontok tiga bisa.
Sempat divonis untuk diamputasi oleh pihak RSU Cianjur, namun pihak keluarga dan asatidz yang mengantarkan saya keberatan kalau kaki saya harus diamputasi, akhirnya saya pun dilarikan ke RSU Hasan Sadikin Bandung. Keputusannya alhamdulillah beruntung, kaki saya tidak diamputasi, namun harus di pen dengan 6 besi dan 8 jahitan, setelah itu di gip (ditembok).
Dengan kejadian itu, keluarga saya merasa terpukul dan shok. Karena tertabraknya saya merupakan musibah beruntun selama 4 tahun terakhir. Setelah sebelumnya kakak pertama saya dioperasi karena usus buntu. Kemudian kakak keempat mengalami depresi setelah seblumnya gejala susah buang air kecil dan besar sehabis melahirkan. Disusul tertabraknya saya dan kakak kedua yang mengalami depresi.
Paling menyesakkan buat saya adalah kejadian tertabrak itu merupakan musibah keempat yang menimpa saya. Setelah sebelumnya di usia lima tahunan sempat jatuh dari pohon jambu setinggi 5 meter hingga kuping kiri mengalami luka dan pendarahan. Setahun kemudian giliran kaki kanan yang tertimpa batu bata seberat lima kilo, setelah jatuh dari benteng tembok tetangga setinggi 1,5 meter. Dan, luka pun tidak bisa ditawar lagi. Peristiwa ketiga di usia 11 tahun mengalami jatuh sehingga persendian sikut tangan kiri saya patah. Dan, keempat, tertabrak motor tersebut.
Awal tertabrak motor itu, saya sempat drop dan putus asa. Merasa hanya diri saya yang sering mengalami kejadian naas itu. Selain usia saya yang masih belia, juga layaknya seorang insan yang menuntut ilmu, meraih prestasi, menggenggam asa dan mengukir cita-cita sedang dalam kondisi puncak. Bagaimana tidak? Sejak SD, sampai MTS kelas I dan akhir kelas II, prestasi baik di sekolah maupun di pesantren sedang dalam kondisi menanjak. Bahkan, ketika kecelakaan itu menerjang, besoknya kenaikan kelas. Dan, saya dapet juara kelas—rengking 1.
Namun, saya tidak bisa menyaksikan moment menyenangkan yang ditunggu-ditunggu itu. Saya harus rela terbaring di rumah sakit selama kurang lebih satu bulan, dengan kondisi kaki saya di pen kayak antena TV, terlentang lemah menahan rasa sakit.
Setelah ke luar dari rumah sakit, harapan seolah datang kembali. Saya berniat untuk masuk sekolah lagi. Walaupun dalam keadaan kaki di pen dan harus pakai tongkat atau kursi roda, saya pun memohon kepada Emak dan Bapak saya untuk bisa kembali lagi ke sekolah dan pesantren. Namun, mereka berdua keberatan, ditambah pihak sekolah kurang setuju kalau saya harus sekolah dalam keadaan tidak sehat. Selain letak sekolah cukup jauh—berada hampir di jantung kota Cianjur, juga luka kaki saya yang masih membutuhkan perawatan intensif.
Dengan berat hati, saya pun menerima keputusan ini. Walau awalnya agak berat meninggalkan belajar yang sedang asyik saya lakoni. Namun, demi kesehatan kaki, saya pun rela ketinggalan pelajaran selama dua catur wulan. Dengan syarat saya bisa mengikuti ujian tiap catur wulan, walaupun dengan materi pelajaran pas-pasan, hanya mengandalkan buku-buku milik keponakan saya yang sekolah dan mesantren di tempat yang sama.
Untungnya pihak sekolah memberikan toleransi, walaupun harus tetap bayar uang SPP dan catur wulan, selama dua catur wulan, saya pun dikirimi kisi-kisi pelajaran yang harus saya pelajari di rumah dan soal-soal ujian tes catur wulan, agar nilai tidak terlalu ketinggalan dan jeblok—nggak ada sama sekali.
Setelah istirahat dalam masa penyembuhan selama kurang lebih tujuh bulan. Akhirnya, kondisi kaki saya pun mulai membaik. Besi pen dan gip-annya telah dicopot, cuma masih pakai ikatan berupa kain keras, agar tulang tidak terlalu banyak tergerak-gerak, saya pun berniat untuk kembali masuk bangku sekolah dan pesantren. Cuti sekolah dan jauh dari teman-teman seperjuangan rasanya cukup membosankan. Lagian, bagi anak seusia 14 tahun seperti saya, jauh dari teman-teman merupakan hal paling menyakitkan. Keceriaan dan kebahagiaan masa anak-anak harus sirna begitu saja. Lagian, rasanya tidak rela, kalau cita-cita dan harapan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi harus berhenti sampai di bangku MTS. “Madrasah Aliyah (MA) dan Perguruan Tinggi harus saya alami”. Demikian cita-cita yang tertanam pada waktu itu.
Dengan kondisi jalan tertatih-tatih—masih pakai tongkat penyangga, juga gigi depan yang ompong, lahaula wala quwwata, saya pun berniat untuk kembali lagi belajar—menuntut ilmu, bergabung bersama teman-teman, para guru tercinta di sekolah dan pesantren. Berbekal keyakinan dan kekuatan doa orang tua dan saudara-saudara, saya pun mulai meniti mimpi, mengais asa dan harapan yang pernah akan sirna. Mewujudkan cita-cita agar jadi anak berguna dan punya pendidikan tinggi adalah tekad saya sejak mengenal bangku sekolah.
Dengan berbekal toleransi dari pihak sekolah dan nilai raport yang pas-pasan, catur wulan ketiga saya pun bisa masuk kembali sekolah dan pesantren. Rasa gembira bercmpur sedih, saya pun berkumpul dengan teman-teman saya, dan masuk di kelas 3 B.
Banyak teman-teman yang penasaran dan menanyakan seputar kejadian itu. Terutama teman gank saya Sumi, Elis, Dadan, merasa prihatin dan sedih dengan peristiwa itu. Maklum, sehari sebelum kejadian itu, kami berempat adalah genk yang sama-sama menikmati indah dan cerianya Dunia Fantasi (DUFAN) Jakarta. Makan, ngopi dan naik bareng setiap permainan, adalah kenangan mengesankan yang sama-sama kami nikmati di DUFAN. Namun, sekarang teman ganknya harus merasakan dan menderita luka parah di kaki kanannya.
Singkatnya saya pun lulus dari MTs Nurul Islam dengan Nilai Evaluasi Murni (NEM) pas-pasan di atas angka 30. “Yang penting lulus dan bisa melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA)”, pikir saya waktu itu.
Dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan saya pun bilang ke orang tua kalau saya ingin melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah (MA). Namun, bingung karena kondisi kesehatan kaki saya belum 100% fit. Emak dan Bapak khawatir kalau saya harus jauh sekolah apalagi harus di dug dag (pulang pergi), naik turun mobil Emak tidak rela melihatnya.
Selain alasan ekonomi yang serba pas-pasan, dan kondisi kesehatan kaki yang masih belum stabil, saya pun diizinkan meneruskan studi di sekolah yang sama, yaitu MA Nurul Islam.
Masih pakai tongkat penyangga, di Madrasah Aliyah saya pun bercita-cita dan mulai mengukir kembali asa yang hampir hilang. Putus asa, keluh kesah, rendah diri dan lainnya harus disingkirkan jauh-jauh. Walaupun awalnya sangat susah menghilangkannya, tapi setahap demi setahap dengan bantuan guru dan orang-orang tercinta, saya pun mulai menemukan kembali irama hidup. Keceriaan di SMA, benar-benar digunakan dengan belajar sungguh-sungguh. Dan, alhamdulillah prestasi yang sempat hilang di MTs kelas III, kini mulai tertemukan kembali. Rengking 3, 2 dan 1 menjadi langganan saya di SMA. Walaupun sekolah itu berstatus swasta, tapi saya benar-benar menikmatinya sampai akhir kelas III Madrasah Aliyah.
Kini, setelah selesai Sarjana, peristiwa itu merupakan kenangan berharga untuk dijadikan cermin dalam menatap kehidupan mendatang. Mungkin itu adalah sebagai washilah agar saya harus pandai bersyukur dan memanfaatkan hidup ini lebih baik. Dan, ternyata, saya merasa kecelakaan itu tidaklah sebanding, jika dibandingkan dengan orang-orang yang mengalami kecelakaan lebih tragis, sampai kaki atau tangannya putus. Ditambah mereka tidak bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Akhirnya, kata yang pantas untuk saya ucapkan adalah Laahaula walaa quwwata illa billah, tidak ada kekuatan selain kekuatan Allah SWT. Dan, sesungguhnya segala sesuatu kembali pada-Nya. Wassalam.
Bantarcaringin (Kamar Impian), 23 Februari 2007
Pukul: 19.05 WIB