Dompetku Hilang!
Oleh: kang Yadi
Si Ibu warung itu tersenyum, tanda bahagia kalau hari ini dia mendapatkan untung yang cukup lumayan. Dagangannya habis, bakso yang ia jual ternyata laku. Maklum baru pertama kali ia jualan. Ya..walaupun tidak besar, tapi hari ini sudah lebih daripada cukup. Gumam hatinya. Meskipun ia hanya dagang kecil-kecilan, di zaman moneter seperti ini, yang penting kan jadi duit, halal dan bisa nyambung hidup. Apalagi anaknya si Pipit yang sering jajan, mintanya suka nggak kewalahan. Tapi dengan aku berdagang, seperti ini paling tidak mengurangi pengeluaranku ke warung lain.Dengan sumringah, besoknya si Ibu warung itu berencana belanja lebih banyak lagi dari sebelumnya, karena ternyata anak-anak di sekitar rumahnya sering jajan makanan-makanan kecil. Seperti ciki, permen, kue, dan lain-lain. Aku akan belanja makanan anak-anak lebih banyak. Sedangkah bahan bakso cukup 50 ribu aja, apalagi sekarang musim hujan, jarang pembeli yang mau beli bakso, nggak seperti cuaca lagi panas. Pikir si Ibu. Dalam benaknya terus saja melayang, nggak sabar, kayak nunggu lebaran aja, ya!
Esok harinya, pagi-pagi sekali si Ibu sudah membangunkan anaknya, si Pipit, mau diajak ke pasar. Maklum jarang sekali ia naik mobil, apalagi ke kota, ah..boro-boro! Nah, sekarang, mumpung lagi ada kesempatan, barang belanjaan kan nggak terlalu banyak. Lagian, pas aku belanja, si Pipit aku titipkan saja di tukang sate, tetangganya, pak Darman.Nggak lama kemudian, dia pun sudah pesen ojek. Maklum ke kampungnya nggak terlewat oleh jalan utama, nggak ada mobil kayak angkot, jadi harus naik ojek. Namun, belum juga setengah perjalanan, masih dijalanan kampung, tiba-tiba dia kaget, dan langsung nepuk ke punggung tukang ojek.
“Mang, Mang, berhenti dulu, Mang!” teriak si Ibu warung. Wajahnya agak panik. Ia tahu kalau dompet yang berisi uang untuk belajannya sudah nggak ada.
“Ada apa Bu?” tanya si tukang ojek, ikut-ikutan kaget.
“Anu, anu, anu…eu…dompet saya ndak ada Mang?”
“Lho, emangnya ke mana? Tadi di bawa nggak? Jangan-jangan masih di rumah? Si tukang ojek tambah penasaran.
“Ndak, saya yakin tadi saya bawa, dan saya jepit di ketek ini, ni…!” si Ibu sewot sendiri, sambil memperagakan saat dia mau pergi dan menjempit dompet di keteknya.
“Coba perikasa baik-baik, siapa tahu Ibu tadi salah nyimpen, di jiningan ndak ada?” si tukang ojek pun ikutan-ikutan panik. Takut dia yang disalahkan.
“Ndak ada, Mang. Wadduuh, gimana ya Mang, itu dompet kan untuk belanjaaa..,terus gimanaaa….,” kontan si Ibu pun menangis sejadi-jadinya. Baru saja ia berjualan, sekarang uang untuk belanjanya hilang entah tahu ke mana.
“Wah, ini pasti jatoh Bu!” si tukang ojek punya pirasat, kalau dompet si Ibu pasti jatuh. Namun, si tukang ojek juga nggak tahu, di mana jatuhnya. “Ayo..ayo..kita cari, kita balik lagi, kita telusuri, mungkin belum ada yang ngambil.
Ojek pun putar balik. Di belakang boncengannya, si Ibu terus saja meraung-raung. “Uangku hilang, uangku hilang, uangku hilaaa…aang!”. Sekarang ojek pun berjalannya agak lambat. Sambil meneliti tiap sudut jalan, siapa tahu dompet itu memang jatuh, dan harapannya tentu bisa segera ditemukan.
Sementra itu, anak-anak sekolah, pak tani dan ibu tani banyak yang melintasi jalananan kampung itu. Karena jalan itu adalah jalan utama yang menyambungkan Cianjur dan Bandung. Jadi, anak-anak sekolah, mau ke pasar, ke kota, ke ladang yang berada di seberang jalan, pasti melewati jalan itu. Dan, pagi itu, entah berapa orang yang sudah melintasi jalan itu.
Sambil, terus meneliti di setiap sudut jalan yang tadi terlewati, si Ibu pun tanya-tanya ke semua orang yang berpapasan di jalan.
“Bu..liat dompet, warna biru muda, ndak Bu?” Tanya si Ibu, ketika berpapasan dengan seorang Ibu, yang kelihatannya mau ke ladang. Si Ibu tani pun geleng kepala “ndak bu”.
Kemudian, dia bertemu dengan segerombolan anak sekolah. “De…tadi liat dompet bibi ndak, De…”
“Nggak, Bi.., mungkin teman-teman di sana kali Bi”, anak-anak itu pun menjunjuk ke segerombolan teman-temannya yang lain yang ada belakangnya.
“Oke, makasih ya…! Terus, gimana dong Mang, masa nggak ada. Itu kan uang Ibu untuk belanja”. Walaupun nangisnya sudah agak reda, tapi masih tetap menyisakan kesedihan yang dalam. Karena nggak ada di jalan mungkin harapannya tinggal satu, mudah-mudahan uang itu ada di rumahnya, ketinggalan. Dan, setiap yang berpapasan dia tanya, tapi jawabnya geleng kepala, tidak melihat ataupun menemukan.
“Ya, sabar ya Bu” Si tukang ojek menghibur. “Siapa tahu di depan ada, nanti ketemu”, si tukang ojek memberi harapan.
Sebentar lagi sampai di rumahnya. Tapi, dompet itu tetap tidak ketemu di jalan yang ia lewati tadi. Sesampai di rumahnya, si Ibu langsung mencari dompetnya. Setiap sudut rumah dan warungnya hampir ia gledah, dan berharap dompetnya segera ditemukan. Karena itu adalah modal untuk menyambung hidup dan anaknya. Dia, sangat sedih kalau-kalau tidak bisa berdagang lagi.
Sempat tanya-tanya, sebut saja orang pinter yang bisa ngimpleng—nerawang barang yang hilang. Katanya sih sebentar lagi bakal ada yang nganterin. Tapi, kapan, dan kapan akan ada yang nganterin.
Setelah tahu di rumahnya dompet itu tidak ketemu, si Ibu pun kembali nangis sejadi-jadinya. Sedih, pilu tiada tara. Modal untuk berjualannya harus hilang. Mungkin, bagi kebanyakan orang uang 300 ribu tidak seberapa, tapi bagi si Ibu warung jumlah itu sangat berarti. Apalagi, tahu sekarang zamannya moneter. BBM terus naik, beras pun terus naik, dan sembako pun terus naik. Mana ada keberpihakan terhadap rakyat kecil, seperti si Ibu warung. Beras bulog saja diembat para cukong. Kini, tiba-tiba uang untuk menyambung hidupnya, untuk bekal sekolah anaknya harus hilang entah ke mana. Hah…dasar nasib, basib..!
***
Di tempat yang lain, di sebuah gubuk reyot yang tidak jauh dari rumah si Ibu warung seorang anak, sedang tersenyum sambil nenteng sebuah dompet berwarna biru muda. Ia sangat senang, karena keinginannya akan segera terlaksana. Ia ingin membeli baju sekolah, sepatu dan buku-buku yang baru, walaupun murah tapi tidak masalah yang penting baru. Maklum sudah dua tahun ia sekolah, baju dan sepatunya sudah pada dobol, belum pernah diganti.
Ibunya hanya seorang tukang kuli kebun atau di sawah milik orang lain, yang penghasilannya 20.000,- perhari, hanya cukup untuk makan pagi dan sore saja. Mending kalau tiap hari ada yang butuh tenangannya, ini paling sehari atau dua hari bisa kerja. Sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak ia baru berumur satu tahun.
Baju dan sepatu yang sekarang ia pakai juga pemberian tetangganya yang punya warung yang baik hati itu. Dan, sekarang ketika ia mau berangkat sekolah di jalan menemukan uang sebanyak itu.
“Bu..Cici nemuin uang,” suara anak itu memanggil Ibunya. Ibunya yang sedang nyuci di sumur pinggir rumahnya terperanjat. Cici menemukan uang? Sambil lari menemui anaknya yang baru saja tiba.
“Kenapa nggak sekolah Ci?” tanya Ibunya heran.
“Cici menemukan uang Bu. Tadi di jalan pas Cici mau berangkat sekolah, tiba-tiba ada dompet, terus Cici ambil, eh..isinya uang”, jelas anak itu polos.
“Berapa?” si Ibu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut anaknya.
“Tiga ratus ribu, banyak kan Bu? Cici pengin beli baju dan sepatu sekolah yang baru, Bu. Sepatu Cici sudah dobol, baju juga sudah hampir nggak muat lagi,” terlihat betapa senangnya anak itu.
“Hah…tiga ratus ribu..!” si Ibu semakin nggak percaya. Dan, langsung mengambil uang dari tangan Cici, yang melongo lihat raut wajah Ibunya yang semakin kaget. “Benar kamu menemukannya? Atau mencuri?” tanya Ibunya lagi, mengintrogasi.
“Benar Bu, Cici tidak boong!” jawab Cici, malah jadi takut, kalau-kalau Ibunya bukannya senang dia menemukan uang sebanyak itu. “Ini dompetnya!” sambung Cici sambil memperlihatkan dan langsung memberikan dompetnya, yang sedari tadi ia pegang yang disembunyikan di belakang badannya. Dan, ketakutannya tetap tidak hilang, malah semakin takut, kalau-kalau Ibunya memarahi.
Hah..dompet ini. Perasaan aku kenal dengan dompet ini. Ini kan kayak punyanya si Ibu warung itu Bu Halimah.
Gumam Ibunya, seolah masih tidak percaya. Dia hanya terdiam sambil memandangi anaknya yang asalnya senang berubah seketika jadi ketakutan. Dirinya ingat, kalau tadi Marlinah istrinya tukang ojek itu pas ngambil air dari sumur tempatnya ia nyuci, bilang, bahwa si Ibu warung Bu Halimah kehilangan dompetnya yang berisi uang tiga ratus ribu. Kini, tiba-tiba dompet itu ditemukan oleh anaknya.Mungkinkah ini dompetnya?
***
Di rumahnya, Bu Halimah tetap masih tidak percaya dengan apa yang ia alami. Dompet dan uangnya sudah hilang entah ke mana. Walaupun ada yang menemukan, siapa yang mau baik hati mengembalikannya. Dan, yang paling menyesakkan, hari ini ia tidak bisa dagang lagi. Kalau mengandalkan suaminya yang kuli bangunan, berapa lama ia harus menabung untuk dapet modal lagi.
Di tengah kebingunan yang memilukan itu, dan air matanya yang masih juga belum kering, tiba-tiba Bu Halimah kaget dengan suara ketuk pintu, “punten, punten…! Bu Halimah, Bu Halimah..!,” panggil suara di luar.
Siapa sich? Warung kan masih tutup, yang mau beli, gitu?
Tanyanya dalam hati, sambil bergegas menuju pintu. Dan, braay…pintu dibuka.
“Eh, Ceu Ela, ada apa Ceu?” tanya Bu Halimah. “Mau belanja? Belum ada apa-apa Ceu? Saya belum sempat belanja, tadi uangnya hilang, jadi saya belum sempet belanja,” sambung Bu Halimah sambil memandangi Ceu Ela yang bengong sedari tadi.
“Ehm…anu Bu, anu…apakah bener Ibu kehilangan uang?”
“Iya, emangnya kenapa Ceu? Emangnya Euceu menemukannya?”
“Ndak! Saya tidak menemukannya. Tapi…anak saya si Cici yang menemukannya”.
“Apa…???” mendadak saja Bu Halimah kaget campur gembira. “Jadi, si Cici yang menemukan? Mana sekarang uangnya, Ceu?” Bu Halimah tidak sabar. Kemelut yang menggelayut di matanya berubah jadi luapan kegembiraan dan harapan.
“Ini Bu!” Ceu Ela sambil memberikan dompet warna biru tua yang berisi uang tiga ratus ribu.
“Alhamdulillah ya Allah..!, terima kasih Ceu. Walaupun kamu termasuk orang yang tidak berada, tapi kamu jujur, terima kasih ya Ceu!” kontan wajah Bu Halimah jadi sumringah. “Kalau begitu, ni buat Ceuceu 50 ribu!”
“Tapi kan Bu? Gimana untuk belanja—”
“Nggak apa-apa Ceu” potong Bu Halimah. “Kita emang sama-sama orang tidak punya, jadi wajar kalau kita saling tolong. Orang-orang di atas sana mana ada yang mau peduli dengan nasib kita rakyat kecil. Lagian, Euceu sudah jujur, baik, dan mau mengembalikan uang ini ke saya. Soal belanja, biar saya belanja dengan uang yang ada saja, yang penting kan jualan saya bisa nyambung terus, terima kasih ya Ceu!”
“Sama-sama Bu!”
Bantarcaringin (Kamar Impian), 03 Maret 2007