Menulis; Panggilan Hidup

 Ketika Menulis Sebuah Panggilan Hidup
Oleh Kang Yadi
Tak semua orang berani mengambil keputusan untuk menulis. Selain dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti merasa tidak punya bakat, malu, dan tentu menulis harus banyak referensi sehingga harus banyak membaca, sedangkan untuk membaca—bahkan kultur membaca di Indonesia sangat kurang. Ya, berbagai faktor itulah yang sering dijadikan alasan kenapa menulis itu sulit. Meskipun, tak sedikit pula orang yang berhasil keluar dari stigma pikiran negatif seperti di atas.

Terus terang, awalnya saya sendiri merasa ragu dan gamang ketika memutuskan untuk terjun dan menekuni dunia menulis. Selain alasan-alasan yang sama seperti kebanyakan orang, juga awalnya saya beranggapan, apakah benar iyah menulis akan menjamin kehidupan saya di masa mendatang?

Meskipun stigma-stigma negatif di atas sampai sekarang terkadang masih sering menghantui pikiran saya. Terutama, ketika ide mandeg di tengah jalan. Sehingga, tak jarang saya pun mengalami down bahkan putus asa. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk terjun ke dunia menulis secara total alias tidak setengah-setengah, tentunya dengan berbagai alasan.

Pertama, menulis ada kebutuhan saya. Ya, sekarang saya merasa bahwa menulis sudah menjadi kebutuhan saya, bahkan panggilan hidup saya. Bagi saya menulis ibarat media untuk mencurahkan semua keluh kesah, resah, sedih, dan persoalan-persoalan hidup lainnya. Dengan menulis, semua beban bisa saya curahkan. Sehingga, kalau saja saya mengalami persoalan-persoalan hidup, pasti menulis adalah tempat pelarian saya yang paling efektif.

Bahkan, banyak di antara penulis-penulis yang mangadalkan kebutuhan hidupnya dari hasil karya (tulisan)-nya, baik berupa buku, tulisan-tulisan lepas, cerpen, puisi yang dikirim ke majalah, koran atau media lainnya. Atau, sekarang menulis sudah dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan.

Kedua, ternyata menulis itu asyik. Mungkin alasan ini yang kadang membuat orang bertanya-tanya besar, memang di mana asyiknya menulis? Apa ia menulis seasyik piknik atau jalan-jalan? Padahal, selama ini banyak orang yang beranggapan menulis adalah pekerjaan yang memberatkan, harus banyak baca, tiap hari berkutat dengan kata-kata, duduk di kamar sendirian, dan lain sebagainya.

Justru di situlah asyiknya menulis. Bahkan menulis lebih asyik dari piknik atau jalan-jalan sekalipun. Menulis menurut saya tidak lagi memberatkan. Sebab, dengan menulis kita bisa menjelajah tiap ruang dengan dimensi yang berbeda. Berkhayal, berimajinasi, bereksplorasi dan lain sebagainya. Dengan menulis semua beban hidup kita dicurahkan, sehingga secara tidak langsung kita bisa terbebas dari penyakit-penyakit seperti gelisah, resah dan stres.

Ketiga, untuk bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, tentunya kita harus banyak menggali berbagai macam ilmu pengetahuan. Menggali ilmu pengetahuan salah satunya adalah dengan banyak membaca. Di sinilah sebetulnya alasan mendasar kenapa saya memutuskan untuk menulis. Sebab, antara menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bagaimana mungkin kita akan menulis sesuatu, sedangkan kita tidak pernah membaca. Membaca adalah kunci utama dalam menulis. Mungkin tidak apa-apa, jika kita membaca tidak musti menulis. Tapi, kalau mau menulis tidak bisa tanpa dengan membaca. Alhasil, membaca adalah kebutuhan primer untuk bisa menulis.

Tentu, membaca tidak hanya terpaku pada membaca buku-buku tebal yang terkadang membuat kita ruwet atau pusing. Tapi, membaca cakupannya luas, bisa dari kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi atau orang lain, juga bisa dari berbagai macam dan peristiwa yang terjadi di alam raya ini. Ketiga point inilah yang akhirnya menggerakkan saya untuk mulai menulis, menulis dan menulis.

Selain, ketiga point di atas, tentu sebaik apapun anggapan kita terhadap menulis, tidak akan pernah akan jadi tulisan kalau kita tidak punya minat dan cara kita untuk mengungkapkan gagasan kita dalam ke dalam sebuah tulisan. Beberapa cara, kenapa saya mencoba untuk tetap menulis, di antaranya;

Pertama, berani malu. Tentu alasan klasik inilah yang seringkali jadi alasan kenapa orang tidak mau menulis; malu! Malu, karena takut ditertawain, tulisan kita jelak, takut diejek, malu kalau tulisan kita tidak sesuai dengan aturan bahasa, atau malu kalau tulisan kita tidak dibaca orang lain. Nah, untuk mengatasinya, tentu cara yang paling mujarab adalah kita harus berani malu.

Dulu, ketika pertama kali menulis modal saya adalah berani malu. Saya masih ingat ketika saya menulis sebuah berita untuk sebuah buletin di kampus saya, itu tulisan dan aturan penulisannya (EYD) acak-acakan. Tapi, waktu itu saya PD saja, toh saya masih belajar. Dan, alhamdulillah lama-kelamaan saya bisa memperbaiki tulisan saya setahap demi setahap.

Kedua, jangan minder untuk melakukan sebuah kebaikan. Terkadang dengan alasan tidak punya bakat, tidak punya pengalaman atau karena kita tidak pernah ikut training menulis, kita pun jadi minder untuk menulis, atau mempublikasikan karya kita ke khalayak ramai.

Terus terang, sampai sekarang saya belum pernah ikut yang namanya training menulis formal (baik training cerpen, puisi, jurnalis dll). Modal saya, sebagian besar adalah otodidak (belajar mandiri) dan beberapa materi bahasa Indonesia yang masih saya ingat, kemauan dan keberanian untuk menuliskan apa yang ada di otak saya. Karena, menulis itu hak dan kebebasan semua orang. Semua orang punya pikiran dan ide-ide brilian yang bisa diungkapkan tanpa harus terkungkung dengan aturan yang bisa mengkrangkeng ide dan pikiran kita (aturan itu bisa dipikirkan nanti).

Akhirnya dengan terus menerus tanpa kenal lelah, insya Allah dengan sendirinya karya itu akan lahir. Dan, saya yakin hampir setiap penulis mengalami proses dan hal yang sama. Tulisan yang awut-awutan, pernah di tolak penerbit atau redaksi sebuah majalan atau koran, dan lain sebagainya.

Tapi, dalam hal apapun—dan semua orang hampir setuju—termasuk dalam menulis proses itu adalah sebuah rangkaian yang musti kita lalui.

So, menulis itu ayik, loh!

Posted in Artikel | 6 Komentar

Mimpi..!!

Malam, Oh..Indahnya

 

Jika bahasa puisi menerjemahkanmu

Tak tertandingi!

 

Bulan bintang adalah hiasanmu

Sampai matahari menggantikan masamu

 

Kamar Impian, 2007

04:38:07

 

 

Terdiam

 

Kala luka meminta sembuh

Kala jiwa berbalut kesengsaraan

Meminta setiap nafas mengulurkan santunan

Pada setiap nadi keabadian

 

Terdiam pada balutan

Saat bencana

Mengoyak jantung kehidupan

Emosi tertahan saat darah mengaliri kecemasan

Memberontak, menelikung setiap keinginan

–kehormatan ketika terluluh lantahkan

Terdampar pada ranting badai musibah tahunan

 

Manakah kekutan manusia

bila tangannya tak punya kuasa?

Manakah kekejaman sang adikuasa

bila raganya sudah tak bernyawa?

 

Semua hanya terdiam

Menunggu setiap keputusan

Sang punya kehidupan

 

Kamar Impian, 2006

23:59:03

 

 

 

Mimpi

 

Mimpi itu kembali menyapa

Setelah sekian lama tak ada

 

Mimpi itu kembali menyapa

Dalam nafas dengkur mengiba

 

Mimpi itu kembali menyapa

Meraga bayang-bayang Yang Kuasa

 

Mimpi itu kembali menyapa

Oh…indahnya!

 

Kamar impian, 2008

21:43:31b

Posted in Puisi! | 2 Komentar

Yuk, Gabung dg FLP Cianjur!

  

FLP Cianjur

 

 

 

FLP Cianjur, dideklarasikan tanggal 08 Februari 2007.

Yuk, Gabung Dengan FLP Cianjur…!

“Bersama FLP Cianjur, Kita Ciptakan Penulis Handal Dan Prefesional”

 

Posted in Seputar FLP Cianjur | 4 Komentar

Lelah

Lelah
Ah…
Penat
Lelah
Seharian aku mencari secercah sinar penghidupan
Tak terasa usiapun hampir seperempat abad?
Kamar Impian, 2008
21:46:05
 
Biarlah
Biarlah mata ini tetap merindu
Jika kau masih tak punya waktu
Biarlah hati ini tetap merasa
Bila kata sudah tak sanggup lagi menyapa
Rindu mendera
Merasa kuasa
Hati yang istimewa
Kamar Impian, 2006
22:44:29
 
Semai Kasih
:untuk seseorang di sana
Kumerindu pada bulan
Semai kasih berjanji pada awan
Kan bawa aku terbang
Kepangkuan sang gadis pujaan
Kamar Impian, 2006
23:38:38
 
Posted in Puisi! | Tinggalkan komentar

Dina Amparan Sajadah; Sebuah Pengakuan

 Dina Amparan Sajadah; Sebuah Pengakuan

Oleh: kang YADI*

 

Pernahkah Anda mengalami kejadian-kejadian memilukan dalam hidup ini. Musibah beruntun, datang silih berganti, ujian demi ujian seolah tidak pernah memberikan kepada kita untuk menghirup kesegeran kebahagiaan?

Jawabnya, pasti pernah. Walaupun dengan kadar dan tingkat derita yang berbeda, semua makhluk (terutama manusia) di bumi ini tidak akan pernah lepas dari ujian dan cobaan. Bagi manusia beriman, ujian dan cobaan merupakan kosekuensi yang harus diterimanya. Walaupun kadar “menerima” tidaklah mudah untuk diterima sebagaimana layaknya. Kadang, karena keterbatasan manusia dalam memahami realitas dan kejadian-kejadian yang terjadi, seringkali setiap musibah bisa konotasi dan penafsiran yang berbeda-beda.

Bagi si A, ketika mendapatkan musibah, mungkin saja sikap yang timbul adalah marah-marah, atau bahkan menggugat Tuhan sebagai sesuatu yang tidak adil dan tidak sayang kepada dirinya. Bahkan, mempertanyaan sebagai suatu dzat yang tidak becus mengurus ciptaannya sendiri. Sebaliknya, bagi si B ketika mendapatkan musibah, mungkin saja berpandangan dan bersikap, kalau kejadian termasuk musibah yang menimpa dirinya adalah bentuk kasih, sayang dan keadilan Tuhan. Tergantung dari mana kita memandang.

Tapi, bagaimana pun persepsi kita tentang musibah yang terjadi, maka sedikit pun Tuhan tidak pernah bergeming atau gentar terhadap persangkaan hamba-Nya. Toh, Tuhan sendiri bersabda bahwa diri-Nya (Tuhan) bergantung sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Maka, kesimpulannya sangat bergantung, sejauh mana kita mempersepsi musibah dan Tuhan itu sendiri.

Nah, jika ditarik pada konteks nasional, beberapa tahun ini Indonesia seolah tidak pernah surut dari musibah. Berbagai macam bencana terus mengalir datang silih berganti. Mulai dari tsunami, banjir bandang di Jawa Timur, gempa bumi Yogyakarta, gempa laut Pangandaran, lumpur panas Lapindo, dan terakhir banjir yang menyerang beberapa kawasan di Indonesia, seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, dan lain-lain.

Belum persoalan lain. Semenjak era reformasi bergulir berbagai peristiwa, mulai dari persoalan domestik keluarga sampai antar bangsa, kekerasan terhadap anak dan perempuan, kemiskininan, pengangguran, pembunuhan, tawuran antar suku, persoalan TKI dan lain-lain, seolah tidak pernah selesai, melekat bak lumut yang sulit untuk dibersihkan.

Nah, dari sini pun semua orang punya persepsi dan sikap yang berbeda. Mulai birokrat, konglomerat, pejabat hingga orang melarat, punya persepsi dan sikap yang berbeda-beda. Ada yang mengeluh dan mengambil tindakan konyol seperti bunuh diri. Ada juga yang bersikap lebih pasrah tanpa harus bertindak apa-apa untuk keluar dari kemelutnya. Ada juga yang saling menyalahkan, si A penyebabnya, si B penyebabnya dan seterusnya. Ada juga juga yang memaki-maki para pejabat, menganggap karena ulah pejabatlah negara ini jadi hancur, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Karena ulah pejabatlah kemiskinan, pengangguran, kekerasan semakin merajalela.

Ada juga kaum lain yang hanya menyebar brosur, sepanduk, mengadakan pengajian, istighosah, duduk di majelis taklim sambil mencucurkan air mata. Karena kita harus pasrah dan menyerahkan semua persoalan ini kepada sang pencipta, tanpa harus berusaha berbuat, melawan segala bentuk penindasan yang menyebabkan musibah ini terjadi.

Intinya, apapun persepsi, sikap dan cara orang dalam memahami setiap peristiwa dan kejadian yang menimpa memang sah adanya. Bergantung pada seberapa besar tingkat pemahaman, kepekaan seseorang dalam memahami realitas kehidupan ini.

 

Pengakuan Berarti Kepasrahan

Bagi yang percaya bahwa ada suatu dzat yang lebih Maha sempurna dari yang sempurna, suatu dzat yang kuat dari kekuatan yang ada, dan tidak akan ada sesuatu yang bisa menandingi keberadaan-Nya, tentu segala persoalan akan ia kembalikan kepada sesuatu yang Maha sempurna tersebut.

Artinya, seberapa pun kekuatan manusia untuk menyelesaikan segala persoalan dan musibahnya yang menimpa, maka tidak akan berarti apa-apa, jika suatu Yang Maha Perkasa tidak pernah ikut ambil bagian dalam membantu menyelesaikan persoalannya.

Inilah sebuah pengakuan. Seberapa pun hebatnya manusia, tidak ada yang lebih hebat selain yang mengenggam seluruh alam ini. Dan, seberapa pun sucinya manusia, tetap manusia adalah tempatnya kesalahan dan kekhilafan (kecuali yang dimaksum dan disucikan).

Sebuah lagu sunda, Dina Amparan Sajadah, yang ketika mendengarkannya membuat hati saya tersentuh. Sangat filosofis. Terlepas, dari filosifi awal sang pencipta tagu ini, perkenankan saya untuk menafsirkan sesuai dengan apa yang saya pahami.

Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Diri nu lamokot ku dosa. Nyanggakeun sadaya-daya

Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Mundut pangampura gusti. Ya Allah Robbul Izzati.

Jelas, bahwa manusia tidak punya kekuatan secuil pun jika dibandingan dengan Sang Penggenggam alam ini. Teu aya daya sareng upaya, anging Allah Swt. Pasrah di sini berarti mengakui akan kebesaran Allah Swt.

Inilah, sebuah pengakuan hakiki seorang hamba. Ketika dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk menyesaikan seluruh persoalan yang terjadi, maka layaknyalah bergantung pada yang menciptakan masalah. Konsekuensi sebagai makhluk beriman.

Artinya, sedikit pun kita tidak punya hak untuk menyalahkan Tuhan. Karena bisa jadi segala musibah yang menimpa kita merupakan perbuatan manusia sendiri. Alhasil, kita harus mampu mengkosongkan ke-“aku’-an kita sebagai makhluk. Ketika, pengosongan itu berhasil kita lakukan, maka semua persoalan, semua permasalahan kita serahkan sepenuhnya kepada sang pencipta. Kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin mencegah terjadinya musibah tersebut. Karena bisa jadi, segala derita yang terjadi di bumi disebabkan karena ulah manusia sendiri. ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karen perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum [30]: 41)

Banjir, karena kita membuang sampah sembarangan. Longsor, karena hutan-hutan kita gunduli. Kemiskinan, karena uangnya dikorupsi. Pengangguran, karena kapitalisme merajalela. Maka, wajar jika berbagai problem di negeri ini begitu sulit ditanggulangi.

Taya deui pang lumpatan. Taya deui pamuntangan. Mung Allah pangeran abdi. Pangeran anu sajati. Wallahu ‘alam!

 

 

 

* Penulis adalah ketua umum FLP Cianjur

Posted in Artikel | Tinggalkan komentar

Kembali Mengais Asa

Kembali Mengais Asa

Oleh: Kang Yadi

 

Satu bulan tinggal di rumah sakit bukanlah hal yang menyenangkan. Namun, apa mau di kata, luka patah tulang kaki kanan (tepatnya tulang betis) yang saya derita akibat tertabrak motor mengharuskan saya untuk setia tinggal di ruangan ortopedi lantai 2 RSU Hasan Sadikin Bandung.

Peristiwanya terjadi ketika di akhir kelas II MTs (mau naik kelas III), tepat tanggal 22 Juni 1997 kira-kira pukul 2 siang, waktu itu saya dengan seorang teman hendak makan siang ke warung si Emak (begitu anak-anak santri Nurul Islam memanggil pemilik warung nasi langganannya) yang berada di seberang Yayasan Nurul Islam Cianjur. Namun, belum juga sampai tujuan, ketika hendak nyebrang, tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi nabrak saya hingga terpental ke pinggir jalan sejauh kurang lebih 3 meter.

Dengan setengah sadar, saya pun berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, tiba-tiba kaki saya terkulai tak bisa tegak berdiri. Setelah saya lihat, ya..ampuuun..tulangnya nolol keluar. Baru kali itu saya melihat tulang saya sendiri. Selain itu mulut saya pun berdarah, dan ternyata gigi saya rontok tiga bisa.

Sempat divonis untuk diamputasi oleh pihak RSU Cianjur, namun pihak keluarga dan asatidz yang mengantarkan saya keberatan kalau kaki saya harus diamputasi, akhirnya saya pun dilarikan ke RSU Hasan Sadikin Bandung. Keputusannya alhamdulillah beruntung, kaki saya tidak diamputasi, namun harus di pen dengan 6 besi dan 8 jahitan, setelah itu di gip (ditembok).

 

Dengan kejadian itu, keluarga saya merasa terpukul dan shok. Karena tertabraknya saya merupakan musibah beruntun selama 4 tahun terakhir. Setelah sebelumnya kakak pertama saya dioperasi karena usus buntu. Kemudian kakak keempat mengalami depresi setelah seblumnya gejala susah buang air kecil dan besar sehabis melahirkan. Disusul tertabraknya saya dan kakak kedua yang mengalami depresi.

Paling menyesakkan buat saya adalah kejadian tertabrak itu merupakan musibah keempat yang menimpa saya. Setelah sebelumnya di usia lima tahunan sempat jatuh dari pohon jambu setinggi 5 meter hingga kuping kiri mengalami luka dan pendarahan. Setahun kemudian giliran kaki kanan yang tertimpa batu bata seberat lima kilo, setelah jatuh dari benteng tembok tetangga setinggi 1,5 meter. Dan, luka pun tidak bisa ditawar lagi. Peristiwa ketiga di usia 11 tahun mengalami jatuh sehingga persendian sikut tangan kiri saya patah. Dan, keempat, tertabrak motor tersebut.

Awal tertabrak motor itu, saya sempat drop dan putus asa. Merasa hanya diri saya yang sering mengalami kejadian naas itu. Selain usia saya yang masih belia, juga layaknya seorang insan yang menuntut ilmu, meraih prestasi, menggenggam asa dan mengukir cita-cita sedang dalam kondisi puncak. Bagaimana tidak? Sejak SD, sampai MTS kelas I dan akhir kelas II, prestasi baik di sekolah maupun di pesantren sedang dalam kondisi menanjak. Bahkan, ketika kecelakaan itu menerjang, besoknya kenaikan kelas. Dan, saya dapet juara kelas—rengking 1.

Namun, saya tidak bisa menyaksikan moment menyenangkan yang ditunggu-ditunggu itu. Saya harus rela terbaring di rumah sakit selama kurang lebih satu bulan, dengan kondisi kaki saya di pen kayak antena TV, terlentang lemah menahan rasa sakit.

Setelah ke luar dari rumah sakit, harapan seolah datang kembali. Saya berniat untuk masuk sekolah lagi. Walaupun dalam keadaan kaki di pen dan harus pakai tongkat atau kursi roda, saya pun memohon kepada Emak dan Bapak saya untuk bisa kembali lagi ke sekolah dan pesantren. Namun, mereka berdua keberatan, ditambah pihak sekolah kurang setuju kalau saya harus sekolah dalam keadaan tidak sehat. Selain letak sekolah cukup jauh—berada hampir di jantung kota Cianjur, juga luka kaki saya yang masih membutuhkan perawatan intensif.

Dengan berat hati, saya pun menerima keputusan ini. Walau awalnya agak berat meninggalkan belajar yang sedang asyik saya lakoni. Namun, demi kesehatan kaki, saya pun rela ketinggalan pelajaran selama dua catur wulan. Dengan syarat saya bisa mengikuti ujian tiap catur wulan, walaupun dengan materi pelajaran pas-pasan, hanya mengandalkan buku-buku milik keponakan saya yang sekolah dan mesantren di tempat yang sama.

Untungnya pihak sekolah memberikan toleransi, walaupun harus tetap bayar uang SPP dan catur wulan, selama dua catur wulan, saya pun dikirimi kisi-kisi pelajaran yang harus saya pelajari di rumah dan soal-soal ujian tes catur wulan, agar nilai tidak terlalu ketinggalan dan jeblok—nggak ada sama sekali.

Setelah istirahat dalam masa penyembuhan selama kurang lebih tujuh bulan. Akhirnya, kondisi kaki saya pun mulai membaik. Besi pen dan gip-annya telah dicopot, cuma masih pakai ikatan berupa kain keras, agar tulang tidak terlalu banyak tergerak-gerak, saya pun berniat untuk kembali masuk bangku sekolah dan pesantren. Cuti sekolah dan jauh dari teman-teman seperjuangan rasanya cukup membosankan. Lagian, bagi anak seusia 14 tahun seperti saya, jauh dari teman-teman merupakan hal paling menyakitkan. Keceriaan dan kebahagiaan masa anak-anak harus sirna begitu saja. Lagian, rasanya tidak rela, kalau cita-cita dan harapan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi harus berhenti sampai di bangku MTS. “Madrasah Aliyah (MA) dan Perguruan Tinggi harus saya alami”. Demikian cita-cita yang tertanam pada waktu itu.

Dengan kondisi jalan tertatih-tatih—masih pakai tongkat penyangga, juga gigi depan yang ompong, lahaula wala quwwata, saya pun berniat untuk kembali lagi belajar—menuntut ilmu, bergabung bersama teman-teman, para guru tercinta di sekolah dan pesantren. Berbekal keyakinan dan kekuatan doa orang tua dan saudara-saudara, saya pun mulai meniti mimpi, mengais asa dan harapan yang pernah akan sirna. Mewujudkan cita-cita agar jadi anak berguna dan punya pendidikan tinggi adalah tekad saya sejak mengenal bangku sekolah.

Dengan berbekal toleransi dari pihak sekolah dan nilai raport yang pas-pasan, catur wulan ketiga saya pun bisa masuk kembali sekolah dan pesantren. Rasa gembira bercmpur sedih, saya pun berkumpul dengan teman-teman saya, dan masuk di kelas 3 B.

Banyak teman-teman yang penasaran dan menanyakan seputar kejadian itu. Terutama teman gank saya Sumi, Elis, Dadan, merasa prihatin dan sedih dengan peristiwa itu. Maklum, sehari sebelum kejadian itu, kami berempat adalah genk yang sama-sama menikmati indah dan cerianya Dunia Fantasi (DUFAN) Jakarta. Makan, ngopi dan naik bareng setiap permainan, adalah kenangan mengesankan yang sama-sama kami nikmati di DUFAN. Namun, sekarang teman ganknya harus merasakan dan menderita luka parah di kaki kanannya.

Singkatnya saya pun lulus dari MTs Nurul Islam dengan Nilai Evaluasi Murni (NEM) pas-pasan di atas angka 30. “Yang penting lulus dan bisa melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA)”, pikir saya waktu itu.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan saya pun bilang ke orang tua kalau saya ingin melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah (MA). Namun, bingung karena kondisi kesehatan kaki saya belum 100% fit. Emak dan Bapak khawatir kalau saya harus jauh sekolah apalagi harus di dug dag (pulang pergi), naik turun mobil Emak tidak rela melihatnya.

Selain alasan ekonomi yang serba pas-pasan, dan kondisi kesehatan kaki yang masih belum stabil, saya pun diizinkan meneruskan studi di sekolah yang sama, yaitu MA Nurul Islam.

Masih pakai tongkat penyangga, di Madrasah Aliyah saya pun bercita-cita dan mulai mengukir kembali asa yang hampir hilang. Putus asa, keluh kesah, rendah diri dan lainnya harus disingkirkan jauh-jauh. Walaupun awalnya sangat susah menghilangkannya, tapi setahap demi setahap dengan bantuan guru dan orang-orang tercinta, saya pun mulai menemukan kembali irama hidup. Keceriaan di SMA, benar-benar digunakan dengan belajar sungguh-sungguh. Dan, alhamdulillah prestasi yang sempat hilang di MTs kelas III, kini mulai tertemukan kembali. Rengking 3, 2 dan 1 menjadi langganan saya di SMA. Walaupun sekolah itu berstatus swasta, tapi saya benar-benar menikmatinya sampai akhir kelas III Madrasah Aliyah.

Kini, setelah selesai Sarjana, peristiwa itu merupakan kenangan berharga untuk dijadikan cermin dalam menatap kehidupan mendatang. Mungkin itu adalah sebagai washilah agar saya harus pandai bersyukur dan memanfaatkan hidup ini lebih baik. Dan, ternyata, saya merasa kecelakaan itu tidaklah sebanding, jika dibandingkan dengan orang-orang yang mengalami kecelakaan lebih tragis, sampai kaki atau tangannya putus. Ditambah mereka tidak bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Akhirnya, kata yang pantas untuk saya ucapkan adalah Laahaula walaa quwwata illa billah, tidak ada kekuatan selain kekuatan Allah SWT. Dan, sesungguhnya segala sesuatu kembali pada-Nya. Wassalam.

 

Bantarcaringin (Kamar Impian), 23 Februari 2007

Pukul: 19.05 WIB

Posted in True Story! | Tinggalkan komentar

Dompetku Hilang!

Dompetku Hilang!

 

Oleh: kang Yadi

Si Ibu warung itu tersenyum, tanda bahagia kalau hari ini dia mendapatkan untung yang cukup lumayan. Dagangannya habis, bakso yang ia jual ternyata laku. Maklum baru pertama kali ia jualan. Ya..walaupun tidak besar, tapi hari ini sudah lebih daripada cukup. Gumam hatinya. Meskipun ia hanya dagang kecil-kecilan, di zaman moneter seperti ini, yang penting kan jadi duit, halal dan bisa nyambung hidup. Apalagi anaknya si Pipit yang sering jajan, mintanya suka nggak kewalahan. Tapi dengan aku berdagang, seperti ini paling tidak mengurangi pengeluaranku ke warung lain.Dengan sumringah, besoknya si Ibu warung itu berencana belanja lebih banyak lagi dari sebelumnya, karena ternyata anak-anak di sekitar rumahnya sering jajan makanan-makanan kecil. Seperti ciki, permen, kue, dan lain-lain. Aku akan belanja makanan anak-anak lebih banyak. Sedangkah bahan bakso cukup 50 ribu aja, apalagi sekarang musim hujan, jarang pembeli yang mau beli bakso, nggak seperti cuaca lagi panas. Pikir si Ibu. Dalam benaknya terus saja melayang, nggak sabar, kayak nunggu lebaran aja, ya!

 

Esok harinya, pagi-pagi sekali si Ibu sudah membangunkan anaknya, si Pipit, mau diajak ke pasar. Maklum jarang sekali ia naik mobil, apalagi ke kota, ah..boro-boro! Nah, sekarang, mumpung lagi ada kesempatan, barang belanjaan kan nggak terlalu banyak. Lagian, pas aku belanja, si Pipit aku titipkan saja di tukang sate, tetangganya, pak Darman.Nggak lama kemudian, dia pun sudah pesen ojek. Maklum ke kampungnya nggak terlewat oleh jalan utama, nggak ada mobil kayak angkot, jadi harus naik ojek. Namun, belum juga setengah perjalanan, masih dijalanan kampung, tiba-tiba dia kaget, dan langsung nepuk ke punggung tukang ojek.

“Mang, Mang, berhenti dulu, Mang!” teriak si Ibu warung. Wajahnya agak panik. Ia tahu kalau dompet yang berisi uang untuk belajannya sudah nggak ada.

“Ada apa Bu?” tanya si tukang ojek, ikut-ikutan kaget.

“Anu, anu, anu…eu…dompet saya ndak ada Mang?”

“Lho, emangnya ke mana? Tadi di bawa nggak? Jangan-jangan masih di rumah? Si tukang ojek tambah penasaran.

Ndak, saya yakin tadi saya bawa, dan saya jepit di ketek ini, ni…!” si Ibu sewot sendiri, sambil memperagakan saat dia mau pergi dan menjempit dompet di keteknya.

“Coba perikasa baik-baik, siapa tahu Ibu tadi salah nyimpen, di jiningan ndak ada?” si tukang ojek pun ikutan-ikutan panik. Takut dia yang disalahkan.

“Ndak ada, Mang. Wadduuh, gimana ya Mang, itu dompet kan untuk belanjaaa..,terus gimanaaa….,” kontan si Ibu pun menangis sejadi-jadinya. Baru saja ia berjualan, sekarang uang untuk belanjanya hilang entah tahu ke mana.

“Wah, ini pasti jatoh Bu!” si tukang ojek punya pirasat, kalau dompet si Ibu pasti jatuh. Namun, si tukang ojek juga nggak tahu, di mana jatuhnya. “Ayo..ayo..kita cari, kita balik lagi, kita telusuri, mungkin belum ada yang ngambil.

Ojek pun putar balik. Di belakang boncengannya, si Ibu terus saja meraung-raung. “Uangku hilang, uangku hilang, uangku hilaaa…aang!”. Sekarang ojek pun berjalannya agak lambat. Sambil meneliti tiap sudut jalan, siapa tahu dompet itu memang jatuh, dan harapannya tentu bisa segera ditemukan.

Sementra itu, anak-anak sekolah, pak tani dan ibu tani banyak yang melintasi jalananan kampung itu. Karena jalan itu adalah jalan utama yang menyambungkan Cianjur dan Bandung. Jadi, anak-anak sekolah, mau ke pasar, ke kota, ke ladang yang berada di seberang jalan, pasti melewati jalan itu. Dan, pagi itu, entah berapa orang yang sudah melintasi jalan itu.

Sambil, terus meneliti di setiap sudut jalan yang tadi terlewati, si Ibu pun tanya-tanya ke semua orang yang berpapasan di jalan.

“Bu..liat dompet, warna biru muda, ndak Bu?” Tanya si Ibu, ketika berpapasan dengan seorang Ibu, yang kelihatannya mau ke ladang. Si Ibu tani pun geleng kepala “ndak bu”.

Kemudian, dia bertemu dengan segerombolan anak sekolah. “De…tadi liat dompet bibi ndak, De…”

“Nggak, Bi.., mungkin teman-teman di sana kali Bi”, anak-anak itu pun menjunjuk ke segerombolan teman-temannya yang lain yang ada belakangnya.

“Oke, makasih ya…! Terus, gimana dong Mang, masa nggak ada. Itu kan uang Ibu untuk belanja”. Walaupun nangisnya sudah agak reda, tapi masih tetap menyisakan kesedihan yang dalam. Karena nggak ada di jalan mungkin harapannya tinggal satu, mudah-mudahan uang itu ada di rumahnya, ketinggalan. Dan, setiap yang berpapasan dia tanya, tapi jawabnya geleng kepala, tidak melihat ataupun menemukan.

“Ya, sabar ya Bu” Si tukang ojek menghibur. “Siapa tahu di depan ada, nanti ketemu”, si tukang ojek memberi harapan.

Sebentar lagi sampai di rumahnya. Tapi, dompet itu tetap tidak ketemu di jalan yang ia lewati tadi. Sesampai di rumahnya, si Ibu langsung mencari dompetnya. Setiap sudut rumah dan warungnya hampir ia gledah, dan berharap dompetnya segera ditemukan. Karena itu adalah modal untuk menyambung hidup dan anaknya. Dia, sangat sedih kalau-kalau tidak bisa berdagang lagi.

Sempat tanya-tanya, sebut saja orang pinter yang bisa ngimpleng—nerawang barang yang hilang. Katanya sih sebentar lagi bakal ada yang nganterin. Tapi, kapan, dan kapan akan ada yang nganterin.

Setelah tahu di rumahnya dompet itu tidak ketemu, si Ibu pun kembali nangis sejadi-jadinya. Sedih, pilu tiada tara. Modal untuk berjualannya harus hilang. Mungkin, bagi kebanyakan orang uang 300 ribu tidak seberapa, tapi bagi si Ibu warung jumlah itu sangat berarti. Apalagi, tahu sekarang zamannya moneter. BBM terus naik, beras pun terus naik, dan sembako pun terus naik. Mana ada keberpihakan terhadap rakyat kecil, seperti si Ibu warung. Beras bulog saja diembat para cukong. Kini, tiba-tiba uang untuk menyambung hidupnya, untuk bekal sekolah anaknya harus hilang entah ke mana. Hah…dasar nasib, basib..!

***

 

Di tempat yang lain, di sebuah gubuk reyot yang tidak jauh dari rumah si Ibu warung seorang anak, sedang tersenyum sambil nenteng sebuah dompet berwarna biru muda. Ia sangat senang, karena keinginannya akan segera terlaksana. Ia ingin membeli baju sekolah, sepatu dan buku-buku yang baru, walaupun murah tapi tidak masalah yang penting baru. Maklum sudah dua tahun ia sekolah, baju dan sepatunya sudah pada dobol, belum pernah diganti.

Ibunya hanya seorang tukang kuli kebun atau di sawah milik orang lain, yang penghasilannya 20.000,- perhari, hanya cukup untuk makan pagi dan sore saja. Mending kalau tiap hari ada yang butuh tenangannya, ini paling sehari atau dua hari bisa kerja. Sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak ia baru berumur satu tahun.

Baju dan sepatu yang sekarang ia pakai juga pemberian tetangganya yang punya warung yang baik hati itu. Dan, sekarang ketika ia mau berangkat sekolah di jalan menemukan uang sebanyak itu.

“Bu..Cici nemuin uang,” suara anak itu memanggil Ibunya. Ibunya yang sedang nyuci di sumur pinggir rumahnya terperanjat. Cici menemukan uang? Sambil lari menemui anaknya yang baru saja tiba.

“Kenapa nggak sekolah Ci?” tanya Ibunya heran.

“Cici menemukan uang Bu. Tadi di jalan pas Cici mau berangkat sekolah, tiba-tiba ada dompet, terus Cici ambil, eh..isinya uang”, jelas anak itu polos.

“Berapa?” si Ibu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut anaknya.

“Tiga ratus ribu, banyak kan Bu? Cici pengin beli baju dan sepatu sekolah yang baru, Bu. Sepatu Cici sudah dobol, baju juga sudah hampir nggak muat lagi,” terlihat betapa senangnya anak itu.

“Hah…tiga ratus ribu..!” si Ibu semakin nggak percaya. Dan, langsung mengambil uang dari tangan Cici, yang melongo lihat raut wajah Ibunya yang semakin kaget. “Benar kamu menemukannya? Atau mencuri?” tanya Ibunya lagi, mengintrogasi.

“Benar Bu, Cici tidak boong!” jawab Cici, malah jadi takut, kalau-kalau Ibunya bukannya senang dia menemukan uang sebanyak itu. “Ini dompetnya!” sambung Cici sambil memperlihatkan dan langsung memberikan dompetnya, yang sedari tadi ia pegang yang disembunyikan di belakang badannya. Dan, ketakutannya tetap tidak hilang, malah semakin takut, kalau-kalau Ibunya memarahi.

Hah..dompet ini. Perasaan aku kenal dengan dompet ini. Ini kan kayak punyanya si Ibu warung itu Bu Halimah.

Gumam Ibunya, seolah masih tidak percaya. Dia hanya terdiam sambil memandangi anaknya yang asalnya senang berubah seketika jadi ketakutan. Dirinya ingat, kalau tadi Marlinah istrinya tukang ojek itu pas ngambil air dari sumur tempatnya ia nyuci, bilang, bahwa si Ibu warung Bu Halimah kehilangan dompetnya yang berisi uang tiga ratus ribu. Kini, tiba-tiba dompet itu ditemukan oleh anaknya.Mungkinkah ini dompetnya?

***

 

Di rumahnya, Bu Halimah tetap masih tidak percaya dengan apa yang ia alami. Dompet dan uangnya sudah hilang entah ke mana. Walaupun ada yang menemukan, siapa yang mau baik hati mengembalikannya. Dan, yang paling menyesakkan, hari ini ia tidak bisa dagang lagi. Kalau mengandalkan suaminya yang kuli bangunan, berapa lama ia harus menabung untuk dapet modal lagi.

Di tengah kebingunan yang memilukan itu, dan air matanya yang masih juga belum kering, tiba-tiba Bu Halimah kaget dengan suara ketuk pintu, “punten, punten…! Bu Halimah, Bu Halimah..!,” panggil suara di luar.

Siapa sich? Warung kan masih tutup, yang mau beli, gitu?

Tanyanya dalam hati, sambil bergegas menuju pintu. Dan, braay…pintu dibuka.

“Eh, Ceu Ela, ada apa Ceu?” tanya Bu Halimah. “Mau belanja? Belum ada apa-apa Ceu? Saya belum sempat belanja, tadi uangnya hilang, jadi saya belum sempet belanja,” sambung Bu Halimah sambil memandangi Ceu Ela yang bengong sedari tadi.

“Ehm…anu Bu, anu…apakah bener Ibu kehilangan uang?”

“Iya, emangnya kenapa Ceu? Emangnya Euceu menemukannya?”

“Ndak! Saya tidak menemukannya. Tapi…anak saya si Cici yang menemukannya”.

“Apa…???” mendadak saja Bu Halimah kaget campur gembira. “Jadi, si Cici yang menemukan? Mana sekarang uangnya, Ceu?” Bu Halimah tidak sabar. Kemelut yang menggelayut di matanya berubah jadi luapan kegembiraan dan harapan.

“Ini Bu!” Ceu Ela sambil memberikan dompet warna biru tua yang berisi uang tiga ratus ribu.

“Alhamdulillah ya Allah..!, terima kasih Ceu. Walaupun kamu termasuk orang yang tidak berada, tapi kamu jujur, terima kasih ya Ceu!” kontan wajah Bu Halimah jadi sumringah. “Kalau begitu, ni buat Ceuceu 50 ribu!”

“Tapi kan Bu? Gimana untuk belanja—”

“Nggak apa-apa Ceu” potong Bu Halimah. “Kita emang sama-sama orang tidak punya, jadi wajar kalau kita saling tolong. Orang-orang di atas sana mana ada yang mau peduli dengan nasib kita rakyat kecil. Lagian, Euceu sudah jujur, baik, dan mau mengembalikan uang ini ke saya. Soal belanja, biar saya belanja dengan uang yang ada saja, yang penting kan jualan saya bisa nyambung terus, terima kasih ya Ceu!”

“Sama-sama Bu!”

Bantarcaringin (Kamar Impian), 03 Maret 2007

Posted in Cerpen | Tinggalkan komentar